DAMPAK PPKM BAGI PEDAGANG KAKI LIMA DI TAMAN JAYA WIJAYA MOJOSONGO

 

            Salah satu spot berkumpulnya pedagang kaki lima di Mojosongo ialah kawasan taman jaya wijaya yang berada di tengah-tengah kawasan mojosongo. Taman ini sebenarnya ditutup saat PPKM ini berlangsung namun para pedagang kaki lima masih berjualan disekitar taman. Taman ini bisa dibuat lari-lari ataupun hanya sekedar dudukuntuk menikmati makanan yang telah dibeli.
            Dampak PPKM bagipedagang kaki lima di mojosongo semakin membuat omzet pedagang anjlok. Selain PPKM omzet mereka juga sudah turun apalagi adanya PPKM ini membuat menjadi turun drastis. Ada banyak pedagang kaki lima yang berjualan, mulai dari jajanan ringan seperti cimol, cilok, pempek, bakso kuah dll. Makanan berat yang ada mulai dari mie ayam, tahu kupat, ayam geprek, soto, steak dsb. Pedagang minuman mulai dari jus, minuman kekinian, es teh dll.





                Salah satu pedagang yang merasakan PPKM ini ialah Adi (45) seorang pedagang makanan pempek di Taman Jaya Wijaya Mojosongo. Pempek merupakan jajan ringan yang disukai banyak orang mulai dari remaja hingga orang tua mereka pernah merasakan pempek. Pak adi disini berjualan dari pukul 09.00-16.00 atau sampai habisnya dagangan yang dibawa. Untuk satu 1 buah pempek dihargai Rp 2000,00  saja dengan minimal pembelian 1 buah alias dua ribu.




Pak Adi adalah golongan yang sangat terdampak atas musibah pandemi ini. Pada hari biasa mampu menjual 80-100 buah pempek apalagi pangkalan penjualan sebelum pandemi adalah sekolah dasar lalu berpindah ke taman. Pada saat pandemi ini omzet penjualan Pak Adi mengalami penurunan sehari paling-paling hanya bisa menjual 20 buah pempek saja.

           Pedagang lain yang mengalami dampak ialah Ibu Susi (30) seorang pedagang es buah. Susi sudah berjualan sekitar dua tahun jadi sebelum masa pandemi sudah berjualan. Susi mengatakan bahwa sangat berdampak dengan adanya pandemi ini dikarenakan minuman dingin yang ia jual bila tidak cocok dengan orang dapat menyebabkan batuk lalu bisa saja orang terserang flu”.


Terlebih lagi minuman yang dijual bukan minuman yang dapat meningkatkan imun tubuh walaupun yang dijual es buah tetap ada buah yang bergizi namun Susi menyadari bahwa minuman yang dijual tidak mempunyai daya tarik saat pandemi. Saat PPKM ini berjalan dagangan yang berupa minuman mempunyai dampak dari yang biasanya berjualan bisa 50 cup sehari kini hanya 20an yang bisa terjual. Saat PPKM ini berlangsung Susi merasa biasa saja dikarenakan sudah bosan dengan aturan pemerintah yang selalu muncul dan tidak menguntungkan pedagang kecil apalagi pedagang kaki lima yang berada di pinggir jalan dan hanya membuka tenda.

Banyak pedagang lain yang merasakan dampak akibat PPKM bulan Juli ini misalnya pedagang lain yang terkena dampak ialah pedagang pentol kuah bernama Pak Yanto (52) ia sudah berjualan sejak tahun 2010 dan berjualan bergantian dengan istrinya. Pak yanto mengatakan bahwa agak tidak diambil pusing dengan adanya virus ini (nampak saat wawancara tidak mengenakan masker hanya disematkan dileher saja) menurutnya bisa berdagang mendapat uang itulah hal yang wajib dilakukan.

Semenjak pandemi menurut Pak Yanto omzet yang didapat memang menurun namun perlahan naik karena pandemi ini juga sudah satu tahun lebih. Pak Yanto mengatakan bahwa omzetnya tidak begitu berpengaruh dengan adanya pandemi ataupun PPKM karena ia sudah berjualan sudah lama dan mempunyai pelanggan yang tetap dan juga rasa dari dagangan yang ia jual itu ada ciri khas tersendiri. Pak yanto mendapat omzet sehari bisa Rp 500.000,- karena ia berjualan dari pagi pukul 08.00 sampai magrib saat pandemi ini omzetnya turun sedikit namun dirasa Pak Yanto sudah biasa karena beliau menganggap ini jaman sedang susah. Sebagai pedagang kaki lima Pak Yanto juga menaati peraturan pemerintah ia mengatakan sudah di vaksin karena sudah masuk kategori lansia.

Pedagang lain yang berdagang secara kaki lima adalah pedagang terang bulan jadul yang masih memakai sepeda bernama Pak Surip (59) beliau adalah pedagang kecil yang berjualan terang bulan yang masih tradisional. Pak Surip mengatakan bahwa "jajanan ini memang sudah kurang diminati bagi anak muda ataupun kalangan orang dewasa". Pak Surip berjualan dari pagi jam 09.00 sampai 17.00 dan berjualan di sekitar kawasan Taman Jaya Wijaya. Sebelum pandemi Pak Surip berjualan di depan sekolah dasar sehingga dagangan bisa dilirik anak kecil. Pak Surip sebelum pandemi bisa mengantongi uang hampir Rp 90.000 namun karena pandemi pak surip hanya beromzet Rp 20.000-30.000 saja. Beliau mengatakan bahwa omzetnya sangat menurun sehingga sangat berdampak dengan adanya pandemi ini.     Mengenai PPKM yang dilakukan bulan juli ini beliau kurang update atau bisa dibilang kurang mengikuti adanya perkembangan peraturan karena sudah tua dan tidak begitu tahu soal teknologi. Informasi mengenai PPKM di dapatkan ketikamengobrol bersama pedagang lain yang memberitahu topik terhangat dari situlah Pak Surip tahu akan adanya peraturan PPKM itu.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini